Insiden Tragis Adik Keisya Levronka di Untar: Kronologi Lengkap dan Upaya Penyelesaian

Insiden adik Keisya Levronka di Untar mencuat kembali setelah dua tahun berlalu. Lexi Valleno Havlenda, adik penyanyi terkenal itu, jatuh dari lantai enam gedung kampus saat latihan kegiatan organisasi. Keluarga menuntut tanggung jawab, sementara Universitas Tarumanagara (Untar) memberikan klarifikasi resmi. Kasus ini menyoroti isu keselamatan mahasiswa di lingkungan kampus.

Artikel ini mengupas tuntas kronologi, kondisi korban, pernyataan kedua pihak, dan implikasi lebih luas. Anda akan mendapatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana insiden ini terjadi dan langkah penyelesaiannya. Selain itu, kami bahas tips pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang di universitas lain.

Keisya Levronka, penyanyi hits seperti “Tak Ingin Usai”, pun mendampingi ibunya dalam mencari keadilan. Kasus ini viral di media sosial, memicu diskusi tentang tanggung jawab institusi pendidikan. Mari telusuri fakta-faktanya secara objektif.

Latar Belakang Kasus Insiden Adik Keisya Levronka di Untar

Lexi Valleno Havlenda merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Untar angkatan 2023. Ia aktif bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Hukum Pencinta Alam (MAHUPA). Organisasi ini fokus pada kegiatan alam seperti hiking dan eksplorasi gua.

Insiden terjadi pada April 2023, saat Lexi mengikuti latihan caving atau susur gua. Kegiatan ini melibatkan teknik rappelling menggunakan tali dan pengait pengaman. Namun, latihan berlangsung di gedung kampus, bukan area alam terbuka.

Untar, universitas swasta bergengsi di Jakarta Barat, dikenal dengan program hukum dan arsitekturnya. Kampus ini memiliki gedung tinggi untuk fasilitas akademik. Sayangnya, kegiatan ekstrakurikuler seperti ini kadang luput dari pengawasan ketat.

Keluarga Lexi, termasuk Keisya Levronka dan ibunya Levi Leonita Davies, awalnya bungkam. Mereka fokus pada pemulihan. Tapi setelah dua tahun, Levi angkat bicara via Instagram. Ia merasa pihak kampus dan UKM belum tunjukkan itikad baik.

Kasus ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Ia libatkan elemen hukum, seperti tanggung jawab perdata dan pidana potensial. Publik pun bertanya: Siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan mahasiswa?

Kronologi Lengkap Kejadian di Kampus Untar

Peristiwa dimulai pada 29 Maret 2023, hari libur nasional Wafat Isa Almasih. UKM MAHUPA tetap gelar latihan caving di gedung kampus. Lexi, sebagai anggota baru, ikut serta.

Mereka gunakan tali dan pengait untuk simulasi turun tebing. Lexi naik ke lantai enam. Saat turun, pengait pengamannya lepas. Ia jatuh bebas ke lantai bawah.

Saksi mata segera bantu. Tapi penanganan awal kontroversial. Lexi dibopong, duduk di kursi roda, lalu dorong ke taxi online. Mereka tidurkan ia di dalam mobil menuju rumah sakit.

Rumah sakit terdekat afiliasi dengan yayasan Untar. Dokter diagnosa cedera berat. Proses ini ambil waktu krusial. Keluarga yakin penundaan perburuk kondisi.

Pihak keamanan kampus larang kegiatan karena hari libur. Tapi anggota UKM abaikan. Tidak ada izin resmi dari rektorat. Ini jadi poin kunci dalam klarifikasi Untar.

Kronologi ini berdasarkan pernyataan Levi dan Untar. Tidak ada laporan polisi resmi saat itu. Keluarga pilih jalur dialog awal.

Kondisi Korban Pasca-Insiden: Dampak Jangka Panjang

Lexi alami cedera parah. Tulang ekor remuk, trauma ginjal kanan hingga bergeser. Paru-parunya penuh cairan, saraf dari pelvis ke kaki kanan mati fungsi.

Ada robekan di jantung. Ia pakai kateter setahun penuh. Mobilitas terbatas, butuh kursi roda dan perawat pribadi.

Pemulihan butuh fisioterapi intensif. Lexi tidur di matras dekubitus hindari luka tekan. Rawat jalan masih berlanjut hingga 2026.

Psikologis, ia trauma berat. Studi hukum terganggu. Untar tawarkan dukungan akademik, tapi keluarga tolak bantuan finansial awal.

Cedera ini ubah hidup Lexi. Ia kini fokus rehabilitasi. Keluarga keluarkan biaya material dan immaterial besar.

Kasus ini tunjukkan betapa riskan kegiatan ekstrem tanpa protokol aman. Dokter sarankan pemantauan jangka panjang atasi komplikasi.

Pernyataan Keluarga: Tuntutan Keadilan dari Levi Leonita Davies

Levi Leonita Davies unggah cerita panjang di Instagram pada 30 Januari 2026. Ia sebut dua tahun berlalu tanpa penyelesaian.

“Anak saya jatuh dari lantai enam, tapi penanganan salah,” tulisnya. Ia kritik taxi online bukan ambulan.

Levi tuntut tanggung jawab Untar dan UKM. Bukan cari untung, tapi keadilan. Ia sebut itikad baik kampus jauh dari cukup.

Keisya Levronka dampingi ibu. Penyanyi ini repost unggahan, tambah visibilitas. Keluarga tolak dana Untar karena tak sesuai hitungan kerugian.

Mereka inginkan transparansi. Levi sebut komunikasi sulit. Ini alasan viralkan kasus.

Pernyataan ini picu dukungan publik. Banyak netizen tagih Untar bertindak cepat.

Klarifikasi Resmi dari Universitas Tarumanagara

Untar rilis pernyataan pada 4 Februari 2026. Mereka hormati sikap keluarga Keisya Levronka.

Kampus sebut kegiatan tanpa izin. Hari libur, fasilitas darurat tak operasional penuh. Keamanan sudah larang, tapi diabaikan.

Mereka adakan dialog langsung. Pertemuan terakhir 3 Februari 2026. Bahas kronologi dan harapan masing-masing.

Untar komitmen selesaikan persoalan. Fokus kontinuitas pendidikan Lexi, bantu pemulihan fisik dan psikologis.

Mereka sesali kontroversi media sosial. Sebut informasi tak lengkap picu opini negatif. Proses tak tertunda, tapi butuh hati-hati.

Kampus tawarkan bantuan alternatif adil sesuai hukum. Ini langkah hormati keputusan keluarga tolak dana awal.

Dialog dan Upaya Penyelesaian Antara Keluarga dan Untar

Pertemuan berlangsung konstruktif. Kedua pihak saling dengar. Keluarga sampaikan keluhan penanganan.

Untar janji investigasi internal. Mereka perketat aturan UKM. Semua kegiatan wajib izin dan asesmen risiko.

Keluarga minta kompensasi layak. Bukan hanya finansial, tapi dukungan medis jangka panjang.

Proses ini libatkan mediator eksternal jika perlu. Untar tekankan transparansi dan keadilan.

Hingga Februari 2026, belum capai kesepakatan final. Tapi dialog lanjut. Ini harapan hindari jalur hukum.

Publik pantau perkembangan. Kasus ini bisa jadi preseden penyelesaian damai.

Implikasi untuk Keselamatan Mahasiswa di Kampus Indonesia

Insiden ini sorot lemahnya protokol keselamatan. Banyak UKM gelar kegiatan berisiko tanpa pengawasan.

Universitas wajib terapkan SOP ketat. Termasuk pelatihan instruktur, peralatan standar, dan tim darurat 24/7.

Contoh, Universitas Indonesia punya komite keselamatan UKM. Untar bisa adopsi model serupa.

Pemerintah lewat Kemendikbud bisa buat regulasi nasional. Sertifikasi kegiatan ekstrem jadi kunci.

Mahasiswa pun bertanggung jawab. Pilih UKM aman, laporkan pelanggaran.

Kasus serupa pernah terjadi di kampus lain, seperti jatuh saat hiking. Pelajaran: Prioritaskan safety daripada petualangan.

Analisis Hukum dan Etika dalam Kasus Ini

Dari sudut hukum, Untar bisa tanggung jawab perdata jika terbukti kelalaian. Pasal 1365 KUHP perdata atur ganti rugi.

Tapi kegiatan tanpa izin sulitkan klaim. UKM mungkin jadi pihak utama bertanggung jawab.

Etika, kampus harus lindungi mahasiswa. Meski hari libur, akses darurat tetap wajib.

Keluarga punya hak tuntut. Tapi dialog lebih baik daripada litigasi panjang.

Ahli hukum sarankan mediasi. Ini cepat dan kurangi konflik.

Kasus ini ajar institusi tingkatkan governance. Transparansi bangun trust.

Pencegahan Insiden Serupa: Tips untuk Mahasiswa dan Kampus

Mahasiswa pilih UKM resmi. Cek izin kegiatan sebelum ikut.

Gunakan peralatan bersertifikat. Ikuti pelatihan dasar keselamatan.

Laporkan jika lihat risiko. Jangan abaikan peringatan keamanan.

Kampus terapkan audit rutin UKM. Wajib asuransi mahasiswa aktif.

Siapkan tim respons darurat. Edukasi via seminar keselamatan.

Orang tua pantau kegiatan anak. Diskusi risiko bersama.

Dengan langkah ini, kampus jadi tempat aman belajar.

Kesimpulan: Harapan Keadilan dan Pencegahan

Insiden adik Keisya Levronka di Untar jadi pelajaran berharga. Kronologi tunjukkan celah keselamatan. Keluarga tuntut tanggung jawab, Untar komitmen selesaikan.

Dialog lanjut beri harapan resolusi damai. Implikasi luas: Tingkatkan standar safety di kampus.

Anda bisa dukung dengan share pengalaman keselamatan. Hubungi Untar jika punya info tambah. Mari cipta lingkungan pendidikan lebih aman.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *