SMAMX Hidupkan Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah Lewat Kajian Keliling di Rumah Siswa

Bayangkan kalau sekolah nggak cuma tempat belajar mata pelajaran biasa, tapi juga jadi pusat perubahan nyata di lingkungan sekitar. Di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya, atau yang akrab disebut SMAMX, mereka lagi gencar menghidupkan semangat dakwah yang lebih dekat dan hangat. Namanya Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ), dan caranya? Lewat kajian keliling yang digelar langsung di rumah-rumah siswa.

Program ini lagi ramai dibicarakan, terutama pas bulan Ramadhan kemarin. Bukan sekadar pengajian formal di masjid sekolah, tapi siswa-siswi datang ke rumah teman sekelas, duduk bareng keluarga, ngobrol santai sambil mendalami agama. Hasilnya? Dakwah jadi lebih inklusif, kekeluargaan, dan nggak terasa kaku. Kalau kamu penasaran gimana sekolah ini bisa bikin gerakan seperti ini hidup dan berjalan mulus, yuk simak ceritanya lebih lanjut.

Apa Itu SMAMX dan Mengapa Mereka Begitu Aktif di Dakwah?

SMAMX bukan sekolah Muhammadiyah biasa. Sekolah ini dikenal sebagai boarding school berbasis komunitas yang menerima siswa dari berbagai latar belakang. Ada yang berprestasi tinggi, ada atlet, bahkan siswa berkebutuhan khusus—semuanya diterima tanpa diskriminasi. Prinsipnya sederhana: semua punya hak sama untuk belajar dan berkembang.

Tapi yang bikin SMAMX beda adalah komitmen mereka pada pendidikan karakter berbasis Islam. Mereka nggak cuma ngajarin pelajaran akademik, tapi juga membentuk generasi yang aktif berdakwah. Gerakan Pelajar Subuh Berjamaah (GPSB) dulu pernah jadi program andalan mereka, dan sekarang berkembang jadi Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah.

GJDJ ini sebenarnya konsep sederhana: dakwah dilakukan secara berjamaah, oleh jamaah, dan untuk jamaah. Bukan ustadz atau guru doang yang bicara, tapi siswa sendiri yang jadi motor penggerak. Mereka saling mengajak, saling mengingatkan, dan saling memperkuat dalam kebaikan.

Bagaimana Kajian Keliling di Rumah Siswa Bekerja?

Inti dari program ini adalah kajian keliling Ramadhan. Tiap kelas atau kelompok siswa bergiliran jadi tuan rumah. Rumah siswa dipilih sebagai lokasi, biasanya di hari-hari tertentu selama bulan puasa. Siswa datang setelah maghrib atau isya, bawa sajadah kecil, Al-Qur’an, dan semangat tinggi.

Prosesnya santai banget:

  • Dimulai dengan shalat berjamaah (kalau waktunya pas tarawih atau witir).
  • Lanjut tadarus atau murojaah ayat-ayat pendek.
  • Ada sesi kajian ringan, biasanya tema seputar akhlak, motivasi ibadah, atau isu remaja sehari-hari dilihat dari sudut pandang Islam.
  • Ditutup dengan doa bersama dan makan-makan ringan yang disiapkan keluarga tuan rumah.

Contoh nyata: Salah satu siswa kelas X atau XI jadi tuan rumah. Dia siapin ruang tamu atau teras rumah, undang teman sekelas plus keluarga. Guru pembina atau senior IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) SMAMX datang sebagai fasilitator, tapi nggak mendominasi. Siswa yang presentasi, siswa yang diskusi, siswa yang kasih kesimpulan. Ini bikin mereka merasa punya andil besar.

Menariknya, program ini nggak cuma di Ramadhan. Beberapa kelas bahkan lanjutkan kajian keliling di luar bulan puasa, seperti pengajian rutin mingguan atau bulanan. Jadi, gerakan ini berkelanjutan, bukan musiman.

Manfaat Nyata yang Diraskan Siswa dan Keluarga

Banyak siswa bilang, kajian di rumah jauh lebih nyaman daripada di sekolah atau masjid besar. Kenapa?

  • Lebih dekat dan personal. Ngobrol tentang masalah remaja seperti gadget addiction, pertemanan toxic, atau tekanan belajar jadi lebih mudah dibahas karena suasana rumah.
  • Melibatkan keluarga. Orang tua atau adik-kakak ikut nimbrung. Kadang orang tua yang tadinya jarang ikut pengajian, sekarang jadi rutin karena anaknya aktif.
  • Membangun kebersamaan. Siswa yang biasanya pendiam di kelas bisa lebih terbuka di rumah teman. Rasa percaya diri naik, ikatan antar teman makin kuat.
  • Dakwah jadi bagian hidup sehari-hari. Bukan lagi kegiatan tambahan, tapi lifestyle. Siswa belajar bahwa dakwah bisa dilakukan di mana saja, nggak harus di mimbar.

Salah satu siswa pernah cerita, “Awalnya malu kalau rumah kecil, tapi setelah kajian di sini, tetangga ikut penasaran dan minta diajak lagi.” Efek domino-nya luar biasa!

Tantangan dan Cara SMAMX Mengatasinya

Tentu ada hambatan. Misalnya:

  • Jadwal padat siswa (apalagi yang boarding).
  • Cuaca atau transportasi kalau rumah jauh.
  • Variasi antusiasme antar kelas.

Tapi SMAMX pintar mengatasinya. Mereka pakai sistem bergiliran per kelas, koordinasi lewat grup kelas atau IPM, dan selalu ada pembina yang mendampingi. Plus, tema kajian disesuaikan dengan kebutuhan siswa saat itu—bikin materi relevan dan nggak membosankan.

Yang keren, sekolah ini juga integrasikan program ini dengan organisasi siswa seperti IPM. Bidang Kajian Dakwah Islam di PR IPM SMAMX jadi tulang punggung program ini. Mereka yang atur jadwal, siapkan materi, dan evaluasi setiap sesi.

Mengapa Gerakan Ini Penting di Zaman Sekarang?

Di era digital, anak muda gampang terdistraksi. Media sosial penuh konten yang kadang bikin lupa nilai-nilai agama. Nah, GJDJ lewat kajian keliling ini jadi “antidot”-nya. Dakwah nggak lagi top-down, tapi bottom-up—dari siswa untuk siswa.

Ini juga selaras dengan semangat Muhammadiyah: amar ma’ruf nahi munkar yang inklusif. SMAMX buktiin bahwa sekolah bisa jadi agen perubahan sosial, bukan cuma pabrik nilai raport.

Kalau dibandingkan program dakwah lain, yang ini unik karena berbasis komunitas sekolah tapi menjangkau rumah tangga. Hasilnya, nggak cuma siswa yang terdampak, tapi juga keluarga dan tetangga sekitar.

Tips Kalau Mau Tiru di Sekolah atau Komunitas Lain

Pengen coba hal serupa di tempatmu? Ini beberapa langkah praktis:

  1. Mulai kecil: Pilih satu kelas dulu sebagai pilot project.
  2. Libatkan siswa dari awal: Biar mereka yang pilih tema dan jadwal.
  3. Siapkan fasilitator muda: Senior atau guru muda yang relatable.
  4. Jaga suasana santai: Ada camilan, musik nasyid ringan, atau games ice breaker.
  5. Evaluasi rutin: Setelah setiap sesi, tanya feedback apa yang bagus dan perlu diperbaiki.
  6. Dokumentasikan: Foto atau video singkat (dengan izin) untuk motivasi dan promosi.

Dengan pendekatan seperti ini, gerakan dakwah berjamaah bisa hidup di mana saja.

Penutup: Saatnya Bergerak Bersama

SMAMX berhasil menghidupkan Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah lewat kajian keliling di rumah siswa karena mereka punya visi jelas: dakwah yang dekat, hangat, dan berkelanjutan. Bukan cuma teori, tapi praktik nyata yang melibatkan semua pihak.

Kalau kamu siswa, guru, atau orang tua, mungkin ini saatnya mulai gerakan serupa di lingkunganmu. Mulai dari hal kecil, seperti kajian mingguan di rumah bergantian. Siapa tahu, dari situ lahir perubahan besar.

Yuk, share pengalamanmu kalau pernah ikut atau lihat program serupa di kolom komentar!

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *